BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74
tentang Guru disebutkan bahwa kompetensi pedagogik untuk guru SD, MI, SMP, MTs,
SMA, MA, SMK, MAK, atau bentuk lain yang sederajat, meliputi kemampuan antara
lain pemahaman tentang peserta didik secara mendalam, penyelenggaraan
pembelajaran yang mendidik yang meliputi kemampuan merancang pembelajaran, mengimplementasikan
pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran, dan melakukan perbaikan
secara berkelanjutan.
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyebutkan bahwa penilaian (evaluasi) bertujuan untuk mengetahui kemajuan belajar
siswa, untuk keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa, dan
untuk memperoleh umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar. Ilmu Pengetahuan Alam sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah
dasar perlu dirancang proses pembelajarannya, diimplementasikan menggunakan
berbagai pendekatan dan metode pembelajaran,
menggunakan media yang relevan dengan pembelajaran, serta mengevaluasi
proses dan hasil pembelajaran.
1.2.
Masalah
dan Pembatasan Masalah
Bertolak dari latar belakang di atas, pokok permasalahan yang akan
penulis bahas adalah evaluasi proses dan hasil belajar IPA. Untuk membahas
permasalahan tersebut, penulis membatasi pada:
a. Evaluasi Pendidikan di SD, Pengertian, Tujuan,
Fungsi, dan Prinsip Evaluasi Pendidikan di SD
b.
Evaluasi Proses Belajar IPA di SD
c.
Evaluasi Hasil Belajar IPA di SD
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Evaluasi
Pendidikan di SD, Pengertian, Tujuan, Fungsi, dan Prinsip Evaluasi Pendidikan
di SD
Pendidikan memiliki arti yang lebih luas dari pada pengajaran (Ki Hajar
Dewantara). Menurut Ki Hajar, pendidikan adalah peningkatan kemampuan yang
diperoleh peserta didik tidak hanya dari guru selama belajar tetapi juga dari
apa dan siapa saja (lingkungan) selama peserta didik dalam keadaan bangun. Pada
tahun 1935, Beliau menyatakan bahwa pendidikan/pengajaran bertujuan mengembangkan cipta, rasa, dan karsa
peserta didik. B.S. Bloom pada tahun 1956, menjabarkan tujuan pendidikan
seperti itu lebih rinci yang terkenal dengan Taksonomi Tujuan Pendidikan,
yaitu:
1.
Ranah kognitif (ranah proses berpikir)
2.
Ranah afektif (ranah sikap hidup)
3.
Ranah psikomotor (ranah keterampilan fisik)
Jika disejajarkan dengan pendapat Ki
Hajar, maka taksonomi Bloom disajikan dalam tabel berikut:
|
R. Kognitif (C)
|
R. Afektif (A)
|
R. Psikomotor (P)
|
|
C6 Penilaian
|
A5 Menjadi Pola Hidup
|
P5 Gerak Kompleks
|
|
C5 Sintesis
|
A4 Mengatur
Diri
|
P4
Gerak Mekanik
|
|
C4 Analisis
|
A3 Menghargai
|
P3
Menirukan
|
|
C3 Penerapan
|
A2 Menanggapi
|
P2 Siap
Bertindak
|
|
C2
Pemahaman
|
A1 Menerima
|
P1 Persepsi
|
|
C1 Ingatan
|
|
|
|
|
|
|
Guru dalam proses pembelajaran berupaya
memahirkan peserta didik melalui latihan. Pada setiap latihan tersebut
penilaian mulai berperan. Artinya, untuk menentukan bahwa peserta didik telah
mahir “mengingat” diperlukan penilaian,
dan seterusnya. Kemahiran di setiap jenjang dapat diukur dengan alat ukur (tes)
untuk mengetahui tingkat kemahiran RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang
disusun, guru harus tergambar konsep apa yang ingin dikembangkan pada ranah
mana dan pada jenjang apa. RPP dipedomani dalam proses belajar mengajar (proses pembelajaran)
juga dipedomani dalam evaluasi proses maupun evaluasi hasil pembelajaran. Hubungan
RPP dengan proses dan evaluasi digambarkan sebagai berikut:
![]() |
||
|
||
Menurut Tyler bagan tersebut di atas disempurnakan karena
menurutnya ada hubungan timbal balik antara ketiga aspek tersebut. Setiap
tujuan/indikator pembelajaran memiliki proses pembelajaran tertentu dan
mempunyai alat ukur (tes) tertentu. Setelah proses pembelajaran untuk mencapai
tujuan tersebut selesai, perlu diadakan penilaian apakah benar-benar tujuan
telah tercapai. Kalau hasilnya baik, berarti proses sudah baik dan tujuan
pembelajaran sudah dicapai. Jika
sebaliknya, berarti:1.Proses pembelajaran kurang baik/kurang tepat, dengan
demikian guru harus mengulangi proses pembelajaran dengan metode yang tepat.2. Hasil
evaluasi rendah terjadi karena kompetensi terlalu tinggi sebab ada tujuan yang
lebih rendah/prasyarat yang harus dikuasai lebih dulu. Proses pembelajaran
harus diulangi dengan berpedoman pada kompetensi yang lebih rendah. Proses penyempurnaan hasil evaluasi atau
proses peningkatan daya serap disebut EVALUASI PROSES atau EVALUASI FORMATIF.
2.2.
Evaluasi
Proses Belajar IPA
a.
Pengertian
Evaluasi Proses Belajar IPA
Evaluasi proses bermaksud untuk
mendapatkan informasi sejauh mana kegiatan pembelajaran membawa pengaruh pada
peserta didik. Hasil evaluasi proses yang kurang memuaskan berarti terdapat
kekurangsempurnaan dalam pebelajaran dan harus diperbaiki segera sehingga hasil
evaluasi setelah perbaikan proses menjadisempurna atau lebih baik dari pada
hasil evaluasi proses yang pertama.
b.
Alat
Evaluasi Proses Belajar IPA di SD
Alat evaluasi proses pembelajaran IPA
yang dperlukan terdiri dari alat evaluasi untuk mengukur kognitif, alat
evaluasi untuk menentukan kualitas hati nurani, dan alat untuk mengukur
kemampuan keterampilan.
1.
Alat
evaluasi untuk
mengukur kognitif
Alat
evaluasi untuk mengukur kognitif berupa tes sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Tes dapat berbentuk objektif atau uraian (esai). Teknik pemberian tes secara
tertulis dapat dengan pertanyaan objektif yaitu melengkapi pilihan. Teknik
lainnya dengan menyampaikan pertanyaan secara lisan.
2.
Alat
evaluasi untuk menentukan kualitashati nurani
Lebih
mudah melatih anak didik untuk menghapal, memahami, menerapkan hukum,
peraturan, dan sebagainya yang sifatnya kognitif daripada melatih anak didik
supaya berdisiplin, menghargai pendapat orang lain, tenggang rasa, tepat waktu,
mau bekerja sama, dan sebagainya.
Latihan ranah afektif dilakukan
terus-menerus selama proses pembelajaran agar meningkat menjadi jenjang A5 atau
mejadi pola hidup. Contoh yang dilatih
adalah disiplin. Guru mengamati dan
mengobservasi apakah siswa tepat waktu dalam hal:
1. Datang di
kelas/sekolah
2. Membayar uang
sekolah
3. Mengikuti upacara
bendera
4. Mengerjakan
pekerjaan rumah
5. Mengerjakan tugas
praktikum
6. Mengerjakan kebun
sekolah
7. Mengerjakan shalat tepat
waktu
8. Menepati janji
9.
Mengembalikan pinjaman pada waktu yang dijanjikan.
Alat
yang digunakan untuk menentukan adanya perubahan selama pelatihan adalah melalui observasi.
3.
Alat
evaluasi yang akan mengukur keterampilan
Jenis keterampilan yang harus dikembangkan dalam IPA
a. Keterampilan menggunakan tangan
- Cara memegang gelas beker, seperti memegang gelas
biasa namun harus terampil menuangkan isi yang harus dipindahkan ke tempat lain
melalui “bibir” gelas yang sudah didesain untuk itu.
- Cara memegang termometer, menggunakan
ibu jari dan telunjuk tangan kanan, tempat memegangnya di tengah termometer.
Juga dilatih bagaimana mengukur menggunakan termometer. Hal ini perlu dilakukan
terus-menerus dan perlu bimbingan.
b. Keterampilan
menggunakan indera penglihat
Observasi
atau pengamatan adalah kegiatan yang sering dilakukan dalam proses pembelajaran
IPA. Percobaan mengukur suhu air yang
baru saja dipanaskan menggunakan termometer, si pembaca harus meletakkan
matanya sama tinggi dengan permukaan air raksa termometer agar tidak keliru
membaca skala.
c. Keterampilan
menggunakan indera pengecap
Yang
dilatihkan di SD adalah mengecap rasa manis, pahit, dan asam pada bagian
tertentu dari lidah.
d) Keterampilan menggunakan indera
pencium
Merasakan
bau dalam proses pendidikan IPA di SD lebih banyak dilatihkan daripada mengecap
rasa. Contoh:
4.
Cara
Menyusun Alat Evaluasi Proses Pembelajaran IPA
Untuk Menilai proses pembelajaran yang
berkenaan dengan dengan ranah kognitif digunakan alat ukur berbentuk tes objektif
dan atau tes uraian objektif. Cara menyusun alat evaluasi untuk mengukur
kemampuan kognitif selama proses pembelajaran dengan menandai hasil evaluasi.
Bilamana hasil pengukuran sudah baik berarti kualiyas pembelajaran sebagaimana
yang telah dilaksanakan telah membawa dampak positif bagi peserta didik. Dan
begitu pula sebaliknya, jika hasil pengukuran kurang baik berarti proses
pembelajaran harus di ulangi.dengan metode yang cocok sesuai kemampuan peserta
didik. Di berikan beberapa contoh upaya pengukuran yang menunjukan bahwa dengan
pembelajaran tersebut terjadi perubahan
a) Ranah Kognitif
Untuk mengetahui kemampuan kognitif guru
dapat bertanya secara lisan maupun dalam bentuk tertulis misalya dengan menggunakan tes objektif misalnya pilihan
ganda dengan 4 pilihan jawaban.
Contoh soal:
Gas yang paling banyak
volumenya di udara adalah ....
A. Hidrogen
B. Helium
C. Oksigen
D .Nitrogen
Butir
soal di atas masih mengukur C1.Untuk
mengukur kemampuan C2 (memahami) guru dapat membuat pertanyaan :
-
Jelaskan mengapa perbandingan volume
oksigen dengan volume nitrogen di udara selalu tetap, walaupun udara tersebut
diambil dari tempat A maupun dari tempat B!
Jika
diubah dalam bentuk objektif:
Perbandingan
volume oksigen dan volum nitrogen di udara yang diambil dari berbagai tempat
akan selalu sama karena....
A.
Udara merupakan campuran dari berbagai jenis gas
B. Adanya angin yang selalu bergerak, campuran dalam
gas dalam udara menjadihomogen
C. Proses fotosintesis menyebabkan volume oksigen di
udara menjadi tetap
D. Bernapas artinya mengambil oksigen
dari udara, sedangkan fotosintesis mengeluarkan oksigen ke udara
b. Ranah Psikomotor
Percobaan menentukan volume oksigen
diudara mengembangkan keterampilan: menelungkupkan gelas pada lilin yang sedang
terbakar dan terapung di atas air dan keterampilan lain. Guru mengamati
menggunakan lembar observasi misalnya sebagai berikut:
Lembar Observasi
|
No
|
Kegiatan
Yang Dilatih
|
Kualitas
Kegiatan
|
|||
|
Baik
Sekali
|
Baik
|
Kurang
Baik
|
Sangat
Kurang Baik
|
||
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8
9.
|
Memilih Alat
Dan Bahn yang Sesuai
Cara
Menyalakan Lilin
Cara
Meletakkan batang penyangga
Cara
menuangkan air kedalam bejana
Cara
menulungkupkan gelas kosong diatas lilin
Cara Memberi
tanda permukaan air sebelum percobaan
Cara member
tanda permukaan air sesudah percobaan
Membersihkan
alat yang sudah digunakan
Menyimpan alat
dan bahan yang sudah digunakan
|
|
P
P
P
|
P
P
P
P
|
P
P
|
c. Ranah
Afektif
Adanya kerja kelompok dalam percobaan
telah membuahkan sifat tenggang rasa yang makin tinggi dapat dicatat melalui
pengamatan.Indikator tenggang rasa misalnya:
1.
Tidak memaksakan kehendak sendiri
2.
Mau menerima pendapat orag lain
3.
Tidak mudah tersinggung
4.
Kesediaan menjalin persahabatan tanpa pamrih
Bukan hal yang mustahil bahwasanya
penyebaran kualitas dapat sangat berkaitan. Sebagaiman dapat dicontohkan
bahwasanya apabila pada indicator pertama seseorang berada di indicator kurang
baikmaka pada kualitas lain juga demikian.
|
No
|
Jenis
kepribadian
|
Kualitas
Kegiatan
|
|||
|
Baik
Sekali
|
Baik
|
Kurang
Baik
|
Sangat
Kurang baik
|
||
|
1.
2.
3.
4.
|
Tenggang Rasa
(Toleransi)
Tidak
Memaksakan Kehendak Semdiri
Mau menerima
pendapat orang lain
Tidak mudah
tersinggung
Bersedia
menjalin persahabatan tanpa pamrih
|
|
P
|
P
P
|
P
|
2.3. Evaluasi hasil
Belajar IPA di SD
- Tes
Evaluasi Hasil Belajar Ranah Kognitif
Keterampilan
peserta didik menggunakan dan merancang alat-alat IPA
hanya diperoleh dari guru IPA. Hasil belajar keterampilan melalui IPA dapat
diketahui melalui observasi cara merancang dan melaksanakan kegiatan. Alat ujinya adalah
pedoman observasi.
- Evaluasi
Hasil Pembelajaran Ranah Psikomotor
Dalam hal penilaian praktek, tidak lagi diperlukan
evaluasi proes dan cara-cara yang rinci peserta didik, karena selama
pembelajaran peserta didik sudah berkali-kali melakuakan kegiatan tersebut
- Nilai
Hasil Pembelajaran IPA di SD Ranah Afektif
Untuk
mengukur kemantapan sikap pertanyaan dapat dibuat lebih banyak. Hal ini
dilakukan untuk mengukur pendidrian peserta didik. Jika terdapat banyak jawaban
setuju dari sebuah pertanaan maka berarti peserta didik d memiliki pendirian.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian yang telah penulis paparkan sebelumnya, dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut:
1) pengukuran keberhasilan seseorang dalam proses
maupun keberhasilan pembelajaran,
penguasaan materi serta dampaknya terhadap jenjang proses berpikir, jenjang
pengembangan kepribadian, dan jenjang keterampilan menggunakan alat ukur berupa
tes.
2) Evaluasi
proses adalah pelaksanaan pengukuran yang bertujuan untu mengetahui
apakah tujuan pmbelajaran telah tercapai. Evaluasi proses sebaiknya dilakukan
secara tertulis agar semua peserta mendapat kesempatan yang sama mengemukakan pendapatnya. Hasilnya akan
akurat jika dilakukan lebih sering.
3) Penilaian
proses pembelajaran IPA dibagi atas ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Penilaian proses yang sifatnya kognitif dilaksanakan dengan lisan atau tertulis dalam bentuk pertanyaan objektif atau esai objektif.
Penilaian proses yang sifatnya psikomotor dan afektif dilakukan dengan
observasi dan digunakan untuk menentukan kualitas pembelajaran bukan untuk menentukan nilai peserta didik.
4) Penilaian
hasil pembelajaran IPA yang berkenaan dengan kognitif menggunakan tes berbentuk
objektif atau tes bentuk uraian. Pengembangan keterampilan di laboratorium
adalah kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari penilaian kognitif dan menjadi
tanggung jawab guru IPA untuk melaksanakannya, teknik mengukurnya dengan
observasi.
Daftar
pustaka
Sapriati, Amalia. 2014. PEMBELAJARAN IPA
DI SD. Tangerang : Penerbit Universitas
Terbuka
